Kritik Konten Sahur TV Komedi Berlebihan Coreng Ramadan

Waktu sahur biasanya identik dengan suasana yang tenang, penuh doa, dan kebersamaan keluarga di meja makan sebelum memulai puasa. Tapi kalau kita nyalain televisi, sering banget kita nemu Kritik Konten sahur yang isinya cuma hura-hura atau komedi yang rasanya sudah kelewat batas alias berlebihan. Bukannya kasih tontonan yang edukatif atau bikin hati adem, banyak stasiun TV yang lebih milih pamer lawakan fisik, ejek-ejekan antar artis, sampai aksi yang nggak ada manfaatnya sama sekali. Hal ini akhirnya bikin masyarakat merasa kalau tayangan seperti itu justru mencoreng kesucian bulan Ramadan yang seharusnya penuh makna.

Banyak orang tua yang sekarang mulai selektif atau bahkan malas nyalain TV pas sahur karena tayangannya nggak mendidik buat anak-anak. Munculnya Kritik Konten semacam ini sebenarnya sudah jadi rahasia umum setiap tahunnya, tapi entah kenapa polanya masih sering diulang-ulang demi mengejar rating semata. Komedi yang isinya cuma teriak-teriak atau ngerjain orang sampai nangis itu rasanya sudah nggak zaman lagi dan malah bikin telinga sakit di waktu subuh. Penonton sekarang sudah makin pintar, mereka butuh hiburan yang cerdas, ada nilai agamanya, tapi tetap asyik buat ditonton sambil makan sahur.

Sering kali, para pengisi acara TV ini kayak lupa kalau mereka lagi ngisi acara di bulan yang suci, sehingga candaan yang keluar kadang menjurus ke arah negatif. Adanya Kritik Konten dari para netizen di media sosial harusnya jadi tamparan keras buat pihak produser televisi buat memperbaiki kualitas program mereka. Kita nggak anti sama hiburan atau komedi, tapi mbok ya porsinya diatur supaya nggak nutupin esensi dari Ramadan itu sendiri. Masih banyak kok cara buat bikin orang ketawa tanpa harus ngerendahin orang lain atau bikin gaduh di jam-jam yang sakral.

Lembaga Pengawas Penyiaran atau KPI juga sering dapat laporan soal masalah ini, tapi perubahannya kadang terasa lambat banget. Akibat dari Kritik Konten yang terus bermunculan, banyak orang yang akhirnya lebih milih nonton YouTube atau dengerin podcast yang lebih bermanfaat buat nambah ilmu agama pas sahur. Fenomena ini harusnya jadi alarm buat industri televisi kalau mereka bisa ditinggalin penonton setianya kalau nggak segera berubah. Jangan cuma mikirin iklan yang masuk, tapi pikirin juga dampak mental dan moral dari tontonan yang disajikan ke jutaan rumah di seluruh Indonesia.

journal.pafibungokab.org

learn.pafipemkotkerinci.org

news.pafipemkotpalopo.org