Gunung Semeru Erupsi 10 Kali di Awal Tahun 2025: Laporan Terkini PVMBG

Awal tahun 2025 ditandai dengan peningkatan signifikan pada aktivitas vulkanik Gunung Semeru. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan bahwa Gunung Semeru Erupsi sebanyak sepuluh kali sejak 1 Januari 2025 hingga akhir pekan pertama di bulan Februari 2025. Frekuensi erupsi yang tinggi ini menjadi perhatian serius bagi otoritas kebencanaan dan masyarakat yang tinggal di lereng Gunung Semeru. Meskipun erupsi yang terjadi didominasi oleh erupsi abu setinggi 800 hingga 1.500 meter dari puncak, potensi ancaman berupa Awan Panas Guguran (APG) dan lahar dingin tetap menjadi prioritas mitigasi utama. Kondisi ini menegaskan bahwa status siaga Gunung Semeru perlu terus dipertahankan.

PVMBG mencatat bahwa erupsi terbesar terjadi pada hari Kamis, 23 Januari 2025, pukul 09.30 WIB, dengan kolom abu berwarna kelabu tebal yang condong ke arah tenggara. Meskipun demikian, PVMBG melalui juru bicaranya, Bapak Agung Krisna, dalam konferensi pers pada 7 Februari 2025, memastikan bahwa status siaga (Level III) tetap dipertahankan. Penetapan status siaga ini berarti masyarakat dilarang melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari puncak (Jonggring Saloko) dan di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 kilometer dari puncak. Larangan ini bertujuan melindungi warga dari jangkauan APG yang sewaktu-waktu dapat terjadi.

Peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Semeru ini menuntut kesiapan penuh dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan aparat keamanan setempat. Pada 5 Februari 2025, Kepolisian Resor Lumajang bersama TNI dan BPBD mengadakan simulasi evakuasi di Desa Sumberwuluh. Simulasi yang melibatkan 500 warga desa tersebut bertujuan untuk menguji kesiapan jalur evakuasi dan fungsi tempat penampungan sementara. Koordinator Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Semeru, Bapak Riwanto, menambahkan bahwa rekaman data seismograf menunjukkan dominasi gempa letusan dan gempa hembusan, yang mengindikasikan adanya suplai magma yang masih aktif di bawah permukaan.

Meskipun Gunung Semeru Erupsi secara berkala, PVMBG mengimbau masyarakat agar tidak panik, tetapi tetap waspada dan mematuhi rekomendasi resmi yang dikeluarkan. Informasi yang akurat mengenai aktivitas vulkanik dan status siaga hanya bersumber dari pos-pos pengamatan resmi dan lembaga pemerintah yang berwenang. Masyarakat di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) yang berhulu di Semeru, terutama yang dilewati lahar dingin, diminta menjauhi area sungai dan tanggul saat terjadi hujan lebat, karena dapat memicu Gunung Semeru Erupsi secara sekunder berupa aliran lahar dingin. Kesinambungan informasi dan kepatuhan terhadap status siaga adalah kunci utama dalam menjaga keselamatan masyarakat di sekitar gunung.

journal.pafibungokab.org

learn.pafipemkotkerinci.org

news.pafipemkotpalopo.org